Tampilkan postingan dengan label Kumpulan Hadist. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kumpulan Hadist. Tampilkan semua postingan

Saling Mencintai Karena ALLAH

No Comments
“ ﺃﻳﻦ ﺍﻟﻤُﺘﺤﺎﺑُّﻮﻥ ﺑﺠﻼﻟﻲ، ﺍﻟﻴﻮﻡُ ﺃُﻇِﻠُّﻬﻢ ﻓﻲ ﻇﻠﻲ ﻳﻮﻡ ﻻ ﻇﻞَّ ﺇﻻ ﻇِﻠﻲ ”
“Di mana orang-orang yang saling mencintai karena-Ku, maka hari ini aku akan menaungi mereka dengan naungan yang tidak ada naungan kecuali naunganku.” (HR. Muslim).
Rasulullah Shallahu ‘Alaihi Wassallam . bersabda,
“ ﺇﻥ ﺭﺟﻼً ﺯﺍﺭ ﺃﺧًﺎ ﻟﻪ ﻓﻲ ﻗﺮﻳﺔ ﺃﺧﺮﻯ، ﻓﺄﺭﺻﺪ ﺍﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ ﻋﻠﻰ ﻣَﺪْﺭَﺟَﺘِﻪِ ﻣَﻠَﻜًﺎ، ﻓﻠﻤﺎ ﺃﺗﻰ ﻋﻠﻴﻪ، ﻗﺎﻝ : ﺃﻳﻦ ﺗﺮﻳﺪ؟ ﻗﺎﻝ : ﺃﺭﻳﺪ ﺃﺧًﺎ ﻟﻲ ﻓﻲ ﻫﺬﻩ ﺍﻟﻘﺮﻳﺔ، ﻗﺎﻝ : ﻫﻞ ﻟﻚ ﻣﻦ ﻧﻌﻤﺔ ﺗَﺮُﺑُّﻬﺎ ﻋﻠﻴﻪ؟ ﻗﺎﻝ : ﻻ، ﻏﻴﺮ ﺃﻧﻨﻲ ﺃﺣﺒﺒﺘﻪ ﻓﻲ ﺍﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ، ﻗﺎﻝ : ﻓﺈﻧﻲ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺇﻟﻴﻚ ﺃﺧﺒﺮﻙ ﺑﺄﻥ ﺍﻟﻠﻪ ﻗﺪ ﺃﺣﺒَّﻚ ﻛﻤﺎ ﺃﺣﺒﺒْﺘَﻪ ﻓﻴﻪ ”
“Ada seseorang yang mengunjungi saudaranya di sebuah desa. Di tengah perjalanan, Allah mengutus malaikat-Nya. Ketika berjumpa, malaikat bertanya, “Mau kemana?” Orang tersebut menjawab, “Saya mau mengunjungi saudara di desa ini.” Malaikat bertanya, “Apakah kau ingin mendapatkan sesuatu keuntungan darinya?” Ia menjawab, “Tidak. Aku mengunjunginya hanya karena aku mencintainya karena Allah.” Malaikat pun berkata, “Sungguh utusan Allah yang diutus padamu memberi kabar untukmu, bahwa Allah telah mencintaimu, sebagaimana kau mencintai saudaramu karena-Nya.” (HR. Muslim)
Penyakit Epilepsi

Penyakit Epilepsi

No Comments
Dari 'Atho' bin Rabbah beliau berkata: Ibnu 'Abbas Radhiyallahu 'anhu telah berkata kepadaku: Maukah aku perlihatkan kepadamu seorang wanita calon penghuni surga ? Iya, jawab 'Atho'. Ibnu 'Abbas melanjutkan, wanita kulit hitam ini pernah kepada Rasulullah SAW dan berkata, "pada saat aku kambuh (karena epilepsi) secara tidak sengaja saya menyingkap pakaianku hingga terbuka, maka doakanlah untukku wahai Rasulullah". Rasulullah menjawab, apabila engkau mau sabar maka bagimu surga, maka jika engkau mau maka saya doakan agar Allah menyembuhkanmu?. Wanita tersebut menjawab, Namun aku tetap memilih untuk tetap sabar.
Kemudian berkata lagi, setiap kali penyakitku kambuh tanpa aku sadari aku selalu menyingkap pakaianku, maka doakanlah untukku agar aku tidak lagi menyingkap pakaianku saat penyakitku kambuh", kemudian Rasulullah pun mendoakannya. [ Muttafaq 'Alaih ]

Ketahuilah, sebagaimana yang di riwayatkan oleh Imam Bukhari di dalam shahihnya dari riwayat 'Atho', memang pada kenyataannya "epilepsi" yang terjadi pada wanita tersebut adalah karena gangguan jin.

Dari Anas bin malik Radhiyallahu anhu berkata, Rasulullah SAW bwrsabda: "Sesungguhnya besarnya pahala itu tergantung dengan beratnya ujian, Apabila Allah ta'ala mencintai suatu kaum maka Allah akan mengujinya, apabila dia ridha dengan ujian maka baginya keridhaan Allah, namun apabila dia tidak rela menerima ujian maka baginya kemarahan Allah."
( HR. At Tirmidzi, di hasankan oleh Al-Albani: 2/286 )


Sumber : Buku RUQYAH SYAR'IYYAH karya SYAIKH ABU AL-BARRA USAMAH BIN YASIN AL-MA'ANI
MELEPAS JIN KHODAM

MELEPAS JIN KHODAM

No Comments
Jin khodam atau prewangan adalah jin secara khusus berinteraksi dengan manusia dan dimintai jasanya. Kali ini kita tidak sedang membahas hukumnya. Tetapi cara sederhana berlepas diri dari khodam yang pernah membantu tersebut.

Mengapa perlu berlepas diri ????

Perjalanan pengalaman hidup kadang adalah guru paling bijak. Salah satu pelajaran penting dalam urusan jin adalah jangan pernah bekerja sama dengan mereka. Karena tidak ada yang gratis dalam kerjasama itu, dan selalu ada resiko berat di kemudian hari. Jika saat ini masih merasa dibantu oleh jin, segara pikirkan ulang. Jika sudah terlanjur, gimana cara melepasnya?

Diruqyah, ini jawaban yang lazim kita dengar. Ikrar pemutus, ini juga yang pernah kita tahu. Adakah cara yang lebih sederhana, dan menenangkan hati??? Ada.

Simak kisah dalam Tafsir Ibnu Katsir berikut.

Penggalan kisah dalam Tafsir Surah Al Ahqaf ayat 29-32.

Kisah ini tentang Sawad Ibnu Qarib r.a. beliau sebelum masuk Islam adalah tukang tenung.

Berikut Penuturan Umar Bin Khaththab :

Umar berkata kepadanya, "Hai Sawad, ceritakanlah kepada kami kisah permulaanmu masuk Islam."

Sawad r.a. menceritakan bahwa sesungguhnya ketika ia tinggal di India, dia mempunyai teman jin. Sawad melanjutkan kisahnya, "Ketika aku sedang tidur di suatu malam, tiba-tiba teman jinku datang kepadaku dalam mimpiku, lalu berkata kepadaku, 'Bangunlah dan pahami serta pikirkanlah. Jika engkau berakalsesungguhnya telah diutus seorang rasul dari keturunan Lu'ay ibnu Galib'. Lalu jin itu mengucapkan syair berikut, 'Aku merasa heran dengan jin dan gerakannya dalam mempersiapkan unta kendaraannya, lalu memacunya menuju ke Mekah mencari petunjuk. Tiadalah jin yang baik itu sama dengan jin yang jahat. Maka bangkitlah kamu menuju ke manusia yang terpilih dari kalangan Bani Hasyim, dan perhatikanlah apa yang diajarkannya. Kemudian jin itu menyadarkanku dan membuatku terkejut, lalu berkata, 'Hai Sawad ibnu Qarib, sesungguhnya Allah telah mengutus seorang nabi, maka bangkitlah kamu menemuinya, niscaya engkau mendapat petunjuk dan bimbingan".

Pada malam kedua dia datang lagi dan membangunkan diriku seraya mengucapkan, 'Aku heran dengan jin dan pencariannya, dia mempersiapkan kendaraannya dan memacunya menuju ke Mekah mencari petunjuk, tiadalah kedua telapak kakinya sama dengan ekornya. Maka bangkitlah kamu menemui orang pilihan dari Bani Hasyim, tiadalah jin yang beriman itu sama dengan jin yang kafir. Dengan berulang-ulangnya kejadian itu terhadap diriku, maka timbullah dalam hatiku rasa cinta kepada Islam dan ingin tahu akan Rasulullah Saw. menurut apa yang dikehendaki oleh Allah Swt. Maka aku berangkat dengan mengendarai unta kendaraanku yang telah kupersiapkan untuk itu. Setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh, sampailah aku kepada Rasulullah Saw. yang saat itu beliau di Mekah, sedangkan orang-orang yang mengelilinginya masih belum begitu banyak. Ketika Nabi Saw. melihatku, maka beliau bersabda, 'Selamat datang denganmu, hai Sawad ibnu Qarib, kami telah mengetahui apa yang telah disampaikan olehnya.'

Aku berkata, 'Wahai Rasulullah, saya telah menggubah syair. Maka dengarkanlah syair saya ini.' Rasulullah Saw. bersabda, 'Bacakanlah, hai Sawad!' Maka aku membacakan syairku:

Jin temanku telah datang di malam hari sewaktu tidur, dan apa yang kualami dalam tidurku itu bukanlah dusta. Tiga malam berturut-turut dia datang dengan mengucapkan,

 'Telah datang kepadamu seorang Rasul dari Bani Lu'ay ibnu Galib. '

Maka kusingsingkan kainku dan kukendarai unta kendaraanku menempuh padang pasir, dan aku bersaksi bahwa Allah tiada Tuhan selain Dia (yang berhak disembah), dan bahwa engkau adalah orang yang tepercaya terhadap semua yang gaib. Dan bahwa engkau adalah rasul yang paling dekat hubungannya dengan Allah, hai putra orang-orang yang mulia lagi baik. Maka perintahkanlah kepadaku sesuai dengan apa yang disampaikan kepadamu, wahai sebaik-baik rasul, sekalipun memerintahkan kami untuk memasuki sarang serigala. Semoga engkau menjadi syafaatku kelak di hari yang tiada pemberi syafaat kepada Sawad ibnu Qarib selain engkau.

Setelah mendengar syair itu Rasulullah Saw. tertawa sehingga kelihatan gigi serinya, dan berkata kepadaku, 'Engkau beruntung, hai Sawad'."

Lalu Umar r.a. bertanya kepadanya,
 "Apakah teman jinmu itu masih juga datang kepadamu?"

Sawad menjawab, "Sejak aku membaca Al-Qur'an, dia tidak pernah lagi datang kepadaku, dan sebaik-baik pengganti adalah Kitabullah."

Kemudian Imam Baihaqi menyandarkan hadis ini melalui dua jalur yang lain.
-------------------------------------------------------------------------------------------
Apa pelajaran penting dalam kisah diatas????

Saat hati dan diri kita telah diisi dg Al Qur'an, dan Al Qur'an telah benar benar menjadi "sahabat" dalam keseharian kita, maka sahabat/khodam/prewangan dr bangsa jin akan dengan sendirinya pergi.

Persoalannya kemudian, kenapa kita yang sudah membaca Al Qur'an, kadang masih mengalami gangguan????

Mungkin perlu meluangkan waktu lebih banyak untuk bersama Al Qur'an, membaca terjemahan dan tafsirnya.

Hingga seperti Kalimat Sawad Ibnu Qarib diatas
Kitabulloh adalah sebaik baik pengganti

Wallohua'lam.

M. Nadhif Khalyani
~ RLC Indonesia ~

Smoga bermanfaat dan membawa berkah... Aamiin

Salam...
RSS ( Ruqyah Syar'iyyah Surabaya)
Mutiara Hadits - Orang mati Syahid

Mutiara Hadits - Orang mati Syahid

No Comments
Dari Abu Hurairah RA, ia berkata : Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda, "Sesungguhnya yang pertama akan diberi keputusan pada hari kiamat ialah seorang yang mati syahid, lalu ia dibawa dan dihadapkan kepada ni'mat (kebaikan-kebaikan)nya, maka ia mengakuinya. Alloh berfirman, "Apakah yang kamu lakukan padanya ?". Ia menjawab, "Saya telah berjuang untuk-Mu hingga mati syahid". Alloh berfirman, " Kamu berdusta, tetapi Kamu berjuang supaya disebut sebagai pahlawan dan orang pemberani. Dan telah dikatakan orang demikian itu". Kemudian diperintahkan kepada malaikat, lalu ia diseret pada mukanya dan dilemparkan ke neraka. Kemudian berikutnya seorang yang belajar ilmu, mengajarkanya dan membaca Al Qur'an. Lalu ia dibawa dan dihadapkan kepada ni'mat (kebaikan-kebaikan)nya, maka ia mengakuinya. Alloh berfirman, "Apakah yang kamu lakukan padanya ?". Ia menjawab, "Saya mempelajari ilmu dan mengajarkanya serta membaca Al-Quran hanya untuk-Mu". Alloh berfirman, "Kamu berdusta, tetapi Kamu mempelajari ilmu supaya disebut sebagai seorang yang alim, dan kamu membaca Al-Quran supaya disebut sebagai seorang yang pandai membaca Al-Quran, dan telah dikatakan orang demikian itu". Kemudian diperintahkan kepada malaikat, lalu ia diseret pada mukanya dan dilemparkan ke neraka. (Ketiga) seorang hartawan yang diberikan bermacam-macam kekayaan oleh Alloh, lalu ia dibawa dan dihadapkan kepada ni'mat (kebaikan-kebaikan)nya, maka ia mengakuinya. Alloh berfirman, "Apakah yang kamu lakukan padanya ?". Ia menjawab, "Tidak satu jalanpun yang Engkau sukai agar jalan itu diberi harta, melainkan sudah saya beri dengan harta itu semata-mata untuk-Mu". Alloh berfirman, "Kamu berdusta, tetapi Kamu berbuat yang demikian itu agar disebut sebagai seorang yang dermawan, dan telah dikatakan orang yang demikian itu". Kemudian diperintahkan kepada malaikat lalu ia diseret pada mukanya dan dilemparkan ke dalam neraka".

[HR. Muslim juz 3, hal. 1514]
Surat Albaqarah Di baca Full. Kalau tidak sanggup di baca 10 ayat

Surat Albaqarah Di baca Full. Kalau tidak sanggup di baca 10 ayat

No Comments

Ad-Darimi meriwayatkan pula melalui jalur Asy-Sya'bi yang mengatakan bahwa Abdullah ibnu Mas'ud r.a. pernah mengatakan, "Barang siapa membaca sepuluh ayat dari surat Al-Baqarah di suatu malam hari, niscaya setan tidak akan dapat memasuki rumah itu pada malam tersebut. Yaitu empat ayat dari permulaan surat Al-Baqarah dan ayat Kursi dan dua ayat sesudah ayat Kursi, kemudian tiga ayat pada bagian terakhir." Di dalam riwayat lain disebutkan bahwa setan tidak dapat mendekati rumah itu, tidak dapat pula mendekati penghuninya pada malam tersebut, tidak pula sesuatu yang tidak disukai akan menimpanya. Tidak sekali-kali ia dibacakan terhadap orang gila melainkan pasti sadar dari penyakit gilanya.
Hadist Ayam Berkokok dan Keledai yang Meringkik

Hadist Ayam Berkokok dan Keledai yang Meringkik

No Comments

Telah bercerita kepada kami Qutaibah telah bercerita kepada kami Al Laits dari Ja'far bin Rabi'ah dari Al A'raj dari Abu Hurairah radliallahu 'anhu bahwa Nabi ﷺ bersabda: "Jika kalian mendengar suara kokok ayam mohonlah kepada Allah karunia-Nya karena saat itu ayam itu sedang melihat malaikat dan bila kalian mendengar ringkik suara keledai mohonlah perlindungan kepada Allah karena saat itu keledai itu sedang melihat setan".(HR.BHUKORI)

Orang yang paling dimurkai oleh Allah ta'ala

No Comments
Sesungguhnya orang yang paling dimurkai oleh Allah ta'ala adalah orang yang selalu mendebat

📖 Bukhori No.2457.
📖Muslim No.2668

✍🏼 Ad-Dzahabi berkata:
Jika debat untk teguh di atas kbenaran dan menetapkannya mka itu terpuji
Dan jika debat untuk menolak kebenaran atau tanpa ilmu,mka itu tercela

📖 Al-Kabir,hal.221
Berkata Baiklah dan Beramal Baiklah

Berkata Baiklah dan Beramal Baiklah

No Comments
Abdullah ibn Mas'ud radhiyallahu 'anhu berkata,

"قُولُوا خَيْرًا تُعْرَفُوا بِهِ، وَاعْمَلُوا بِهِ تَكُونُوا مِنْ أَهْلِهِ".

Artinya:
"Berkata baiklah kalian hingga kalian dikenal dengan itu, dan beramal baiklah kalian sampai kalian menjadi ahlinya (orang yang selalu beramal baik)."

(Kitabuz Zuhud-Al Imam Abu Bakr asy Syaibani, hal. 25, cet. Darul Istiqamah 2013).
PERMISALAN SHALAT LIMA WAKTU

PERMISALAN SHALAT LIMA WAKTU

No Comments

⛲ عن أبي هريرة رضي الله عنه أنه سمع رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول: (أَرَأَيْتُمْ لَوْ أَنَّ نَهْرًا بِبَابِ أَحَدِكُمْ يَغْتَسِلُ مِنْهُ كُلَّ يَوْمٍ خَمْسَ مَرَّاتٍ، هَلْ يَبْقَى مِنْ دَرَنِهِ شَيْءٌ؟ قَالُوا: لَا يَبْقَى مِنْ دَرَنِهِ شَيْءٌ، قَالَ: فَذَلِكَ مَثَلُ الصَّلَوَاتِ الْخَمْسِ، يَمْحُو اللَّهُ بِهِنَّ الْخَطَايَا) متفق عليه.

⛲ Dari Abu Hurairah radliyallahu 'anhu, bahwasanya beliau mendengar Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam bersabda:
"Apa pendapat kalian seandainya ada sungai di depan pintu (rumah) salah seorang dari kalian yang ia mandi darinya setiap hari sebanyak lima kali,apakah masih tersisa sedikit saja dari kotoran (yang ada di badannya)?
Mereka (para sahabat) menjawab:"(betul) Tidak akan tersisa sedikit saja dari kotoran (badannya),"

Lalu Nabi bersabda:"Maka demikianlah permisalan sholat lima waktu yang dengannya Allah akan menghapuskan dosa-dosanya"."
(Muttafaqun 'alaih)


و الله أعلم بالصواب
بارك الله فيكم

Hadits Bermajelis dan Silaturahmi

No Comments
Rosululloh Shollallahu 'alaihi wa salam
bersabda:

Telah pasti kecintaan-Ku bagi orang yg saling mencintai karena Aku,bermajlis  di jalan-Ku,saling berkunjung di jalan-Ku,dan saling memberi di jalan-Ku

(HR.Ibnu Hibban)

📜Asy-Syariah no.120. hlm.23

Kegelisahan Umar Bin Khattab Alfaruq atas Abu Bakar As-Shiddiq

No Comments
Suatu hari Umar Bin Khattab Alfaruq mengadu kepada Rasulullah SAW akan sahabatnya Abu Bakar As-Shiddiq yang mengganggu pikirannya.

Umar berkata:
"Wahai Rasulullah, ijinkan aku mengungkapkan keresahan hatiku akan apa yang telah Abu Bakar lakukan terhadap diriku."

Dengan lembut Rasulullah menjawab:
"Damaikan hatimu sahabatku, lalu teruskan maksud hatimu".

Setelah tenang, Umar kembali berkata:
"Suatu waktu, Abu Bakar bertemu dengan ku, akan tetapi dia tidak langsung memberi salam kepadaku, dia menunggu aku yg terlebih dahulu mengucapkan salam kepadanya. Aku tidak tahu apa salahku padanya."

Rasulullah SAW tidak ingin masalah ini mengganggu persahabatan diantara kedua sahabat yang sangat dicintainya ini.

Maka Rasulullah pun meminta Abu Bakar dihadapkan bersama agar dapat menjelaskan perihal yang sebenarnya.

Dan ketika Abu bakar hadir ditempat, maka Rasulullah pun bertanya kepada dirinya akan prasangka kerenggangannya dengan Umar.

Maka Abu bakar pun menjawab dengan jawaban santun penuh kasih sayang yang membuat tangis seisi ruangan.

Katanya:
"Wahai Rasulullah, aku pernah mendengar Engkau bersabda:
"Bahwasanya orang yg lebih dahulu mengucapkan salam kepada saudaranya, maka Allah akan membangunkan untuknya satu istana di dalam syurga".

"Maka aku ingin istana tersebut menjadi miliknya Umar Bin Khattab sahabatku tercinta"

Maka Umar pun menangis mendengar jawabannya dan memeluk erat sahabat mulianya itu.

Yaa Allah berikanlah kepada kami sahabat seperti mereka wahai dzat yang maha mulia. Aamiin

Al-Hasan al-Bashri:
"Perbanyaklah Sahabat-sahabat mu’minmu, karena mereka memiliki Syafa’at pada hari kiamat nanti."

Abul Hasan as-Sadzili:
"Jika ada musuh yang bisa mendekatkan kamu kepada Allah, maka hal itu lebih baik dari pada teman akrab yang menjauhkan kamu dari Allah."

Catatan ini kupersembahkan utk sahabat-sahabatku yang tak pernah lelah menebarkan kebaikan dan kedamaian walau dihantam kerasnya ombak cemoohan disana-sini.

Semoga kita bisa menjadi sahabat yang Saling Asih, Saling Asah dan Saling Asuh, yang nanti saling  berjumpa di jannatun-naim.

Semoga menjadi lebih baik dan bermanfaat.

Robbana Taqobbal Minna
Ya Allah terimalah dari kami (amalan kami),

 امن يارب
BAHAYANYA SIFAT SOMBONG

BAHAYANYA SIFAT SOMBONG

No Comments
من حديث عبد الله بن مسعود رضي الله عنه عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ:
(( لا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ، قَالَ رَجُلٌ: إِنَّ الرَّجُلَ يُحِبُّ أَنْ يَكُونَ ثَوْبُهُ حَسَنًا، وَنَعْلُهُ حَسَنَةً، قَالَ: إِنَّ اللَّهَ جَمِيلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ، الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ، وَغَمْطُ النَّاسِ))
[ مسلم، الترمذي، أبو داود، ابن ماجه، أحمد ]

Dari Abdullah bin Mas'ud radhiAlloh anhu berkata, dari Nabi sallallohu alaihi wa salam bersabda:
“Tidak akan masuk surga seseorang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan sebesar dzarrah. Ada seseorang yang bertanya, Bagaimana dengan seorang yang suka memakai baju dan sandal yang bagus ? Beliau menjawab, Sesungguhnya Allah itu indah dan menyukai keindahan. Sombong adalah menolak kebenaran dan meremehkan orang lain”. (HR. Muslim no. 91, At-Tarmizi, Abu- Daud,Ibnu Majah, Ahmad).

Pelajaran yang terdapat dalam hadits:

1- Hadist ini berisi larangan dari sifat sombong yaitu menyombongkan diri kepada manusia, merendahkan mereka, serta menolak kebenaran. (Syarah Shahih Muslim Imam Nawawi, II/163, cet. Daar Ibnu Haitsam).
2- Dalam hadits di atas disebutkan, bahwa tidak akan masuk surga orang yang ada dalam hatinya sifat sombong, walaupun kesombongannya sebesar dzarrah. Dan sombong yang dimaksud oleh Rasulullah shallallah ‘alaihi wasallam dalam hadits di atas adalah orang yang menolak kebenaran, karena memandang rendah orang yang menyampaikannya. Sehingga keterangan apapun yang di sampaikan kepada mereka akan dipandang sebelah mata.
3- Pakean baru, sandal baru diniatkan untuk ketaatan bukan termasuk kategori kesombongan justru sangat dianjurkan.
4- Kesombongan adalah sifat warisan iblis yang menjadi penghalang orang masuk surga karena menjadi kafir, yang wajib dihindari.

Tema hadits yang berkaitan dengan Al-Quran:

1- Kesombongan para penentang dakwah rasul

فَقَالَ الْمَلأ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ قَوْمِهِ مَا نَرَاكَ إِلا بَشَرًا مِثْلَنَا وَمَا نَرَاكَ اتَّبَعَكَ إِلا الَّذِينَ هُمْ أَرَاذِلُنَا بَادِيَ الرَّأْيِ وَمَا نَرَى لَكُمْ عَلَيْنَا مِنْ فَضْلٍ
.
”Maka berkatalah pemimpin-pemimpin yang kafir dari kaumnya, Kami tidak melihat kamu, melainkan (sebagai) seorang manusia (biasa) seperti kami, dan kami tidak melihat orang-orang yang mengikuti kamu, melainkan orang-orang yang hina dina di antara kami yang lekas percaya saja, dan kami tidak melihat kalian memiliki sesuatu kelebihan apa pun atas kami”. (QS. Hud: 27).

2- Sifat sombong sifat warisan iblis

وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلاَئِكَةِ اسْجُدُوا لآدَمَ فَسَجَدُوا إِلاَّ إِبْلِيْسَ أَبَى وَاسْتَكْبَرَ وَكَانَ مِنَ الْكَافِرِيْنَ – (البقرة; ٣٤)
.
“Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: Sujudlah kamu kepada Adam, maka sujudlah mereka kecuali Iblis, ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan yang kafir”. (Al-Baqarah: 34).

أَنَاْ خَيْرٌ مِّنْهُ خَلَقْتَنِي مِن نَّارٍ وَخَلَقْتَهُ مِن طِينٍ 

“Iblis berkata, Aku lebih baik dari padanya (Adam), Engkau telah menciptakan aku dari api dan Engkau menciptakannya dari tanah”. (QS. Al-Araf :12)

3- Negri Akhirat bukan tempat orang yang sombong.

تِلْكَ الدَّارُ الْآخِرَةُ نَجْعَلُهَا لِلَّذِينَ لَا يُرِيدُونَ عُلُوًّا فِي الْأَرْضِ وَلَا فَسَادًا ۚ وَالْعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِينَ

"Negeri akhirat itu, Kami jadikan untuk orang-orang tidak ingin menyombongkan diri dan berbuat kerusakaan di muka bumi. Dan kesudahan yang baik itu adalah bagi orang-orang yang bertakwa." (Al-Qashash: 83)

4- Islam melarang dan mencela Sikap kesombongan

وَلاَ تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلاَ تَمْشِ فِي اللأَرْضِ مَرَحاً إِنَّ اللهَ لاَ يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَجُوْرٍ  

“Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (QS. Luqman:18)

5- Alloh benci orang yang menyombongkan diri

إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْتَكْبِرِينَ

“Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang menyombongkan diri.” (QS. An Nahl: 23)
Bahaya Riya'

Bahaya Riya'

No Comments
"Sesungguhnya yang paling aku takutkan dari apa yang kutakutkan terhadap umatku ialah Riya'dan nafsu yang tersembunyi"(HR.Abu Nu'aim)

MANUSIA DAN BERMEGAH-MEGAHAN

No Comments

أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ ﴿١﴾ حَتَّىٰ زُرْتُمُ الْمَقَابِرَ ﴿٢﴾ كَلَّا سَوْفَ تَعْلَمُونَ ﴿٣﴾ ثُمَّ كَلَّا سَوْفَ تَعْلَمُونَ ﴿٤﴾ كَلَّا لَوْ تَعْلَمُونَ عِلْمَ الْيَقِينِ ﴿٥﴾ لَتَرَوُنَّ الْجَحِيمَ ﴿٦﴾ ثُمَّ لَتَرَوُنَّهَا عَيْنَ الْيَقِينِ ﴿٧﴾ ثُمَّ لَتُسْأَلُنَّ يَوْمَئِذٍ عَنِ النَّعِيمِ

Bermegah-megahan telah melalaikan kamu, sampai kamu masuk ke dalam kubur. Janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu itu), dan janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui. Janganlah begitu, jika kamu mengetahui dengan pengetahuan yang yakin, niscaya kamu benar-benar akan melihat neraka Jahiim, dan sesungguhnya kamu benar-benar akan melihatnya dengan ‘ainul yaqin, kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu megah-megahkan di dunia itu).[At-Takatsur/102:1-8]

AYAT DAN TAFSIRNYA

Firman Allâh Azza wa Jalla :

أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ

Bermegah-megahan telah melalaikan kamu.

Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Kecintaan terhadap dunia, kenikmatannya dan keindahannya, telah melalaikan kamu dari mencari akhirat. Dan itu terus terjadi pada kamu sehingga kematian mendatangimu dan kamu mendatangi kuburan serta menjadi penghuninya”. [Tafsir Ibnu Katsir, surat at-Takâtsur, ayat 1]

Syaikh  Al-‘Utsaimin rahimahullah berkata, “At-Takâtsur (bermegah-megahan) mencakup berbangga dengan banyaknya harta, qabilah, kedudukan, ilmu, dan semua yang memungkinkan terjadi saling berbangga dengannya. Ini ditunjukkan oleh perkataan pemilik sebuah kebun kepada kawannya:

أَنَا أَكْثَرُ مِنْكَ مَالًا وَأَعَزُّ نَفَرًا

Hartaku lebih banyak dari pada hartamu dan pengikut-pengikutku lebih kuat [Al-Kahfi/18: 34. Tafsir Juz ‘Amma, hlm: 305-306]

Beliau rahimahullah juga berkata, “Makna ”telah melalaikan kamu” yaitu, telah menyibukkan kamu sehingga  kamu lalai dari yang lebih penting, yaitu dzikrullah dan melaksanakan ketaatan kepada-Nya. Perkataan ini ditujukan kepada seluruh umat, namun itu dikecualikan orang yang disibukkan oleh perkara-perkara akhirat dari perkara-perkara dunia, dan mereka ini sedikit”.  [Tafsir Juz ‘Amma, hlm: 305]

Ayat ini juga telah dijelaskan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada para Sahabat sebagaimana disebutkan di dalam hadits-hadits berikut:

عَنْ مُطَرِّفٍ عَنْ أَبِيهِ قَالَ أَتَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ يَقْرَأُ أَلْهَاكُمْ التَّكَاثُرُ قَالَ يَقُولُ ابْنُ آدَمَ مَالِي مَالِي قَالَ وَهَلْ لَكَ يَا ابْنَ آدَمَ مِنْ مَالِكَ إِلَّا مَا أَكَلْتَ فَأَفْنَيْتَ أَوْ لَبِسْتَ فَأَبْلَيْتَ أَوْ تَصَدَّقْتَ فَأَمْضَيْتَ

Dari Mutharrif, dari bapaknya, dia berkata, “Aku mendatangi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang membaca ayat “Al-hâkumut Takâtsur”, Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Anak Adam mengatakan, ‘Hartaku, hartaku!’, Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda lagi, “Bukankah engkau tidak memiliki harta kecuali harta yang telah engkau makan, sehingga engkau habiskan;  Atau apa yang telah engkau pakai, sehingga engkau menjadikannya usang; Atau apa yang telah engkau sedekahkan, sehingga engkau meneruskan (yaitu terus memilikinya sampai hari kiamat-pen)”. [HR. Muslim, no. 2958]

Di dalam riwayat lain, Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan:

وَمَا سِوَى ذَلِكَ فَهُوَ ذَاهِبٌ وَتَارِكُهُ لِلنَّاسِ

Dan selain itu, maka dia akan mati dan akan meninggalkan hartanya untuk manusia (ahli waris-pen)”. [HR. Muslim, no. 2959, dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu]

Begitulah sifat manusia umumnya, rakus dan bakhil terhadap harta, sampai ajal menjemputnya, kecuali orang-orang yang dirahmati oleh Allâh Azza wa Jalla .

Firman Allâh Azza wa Jalla :

حَتَّىٰ زُرْتُمُ الْمَقَابِرَ

Sampai kamu mengunjungi (masuk ke dalam) kuburan.

Ada tiga penafsiran kalimat ini (Lihat Tafsir al-Qurthubi):

Yaitu sampai kematian mendatangimu, sehingga kamu berada di kuburan sebagai orang-orang yang mengunjungi kuburan, lalu kamu akan kembali dari kuburan menuju surga atau neraka, sebagaimana kembalinya orang yang berkunjung menuju rumahnya.Yaitu bermegah-megah telah melalaikan kamu sehingga kamu menghitung orang-orang yang telah mati. Namun penafsiran ini lemah karena jauh dari rangkaian ayat. [Tafsir Juz ‘Amma, hlm. 307, syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah]Ini merupakan ancaman, yaitu kamu menyibukkan diri dengan segala yang bisa pergunakan untuk membanggakan sehingga kamu mendatangi kuburan (mati), lalu kamu melihat siksa Allâh Azza wa Jalla yang akan menimpa kamu. Ini sesungguhnya semakna dengan penafsiran pertama.

Dan yang paling tepat adalah penafsiran yang pertama sebagaimana dijelaskan oleh Imam Ibnu Katsir rahimahullah dengan perkataannya, “Yang benar, maksud firman Allâh Azza wa Jalla yang artinya, ”Kamu mengunjungi kuburan” adalah kamu berada di kuburan dan dikubur di dalamnya. Sebagaimana tersebut dalam hadits shahih bahwa Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam menengok seorang laki-laki baduwi yang sakit, Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لَا بَأْسَ طَهُورٌ إِنْ شَاءَ اللَّهُ

Tidak mengapa, insya Allâh sebagai pembersih dosa

Laki-laki itu mengatakan, “Engkau berkata sebagai pembersih dosa?! Bahkan ini adalah demam yang bergejolak pada seorang laki-laki tua yang akan menghantarkannya ke kuburan!” Beliau bersabda, “Ya, kalau begitu“. [HR. Al-Bukhâri, no. 3616]

Syaikh al-‘Utsaimin rahimahullah berkata, “Firman Allâh, (yang artinya), ‘Sampai kamu mengunjungi kuburan”, maksudnya sampai kamu mati. Manusia itu memiliki watak sedang bermegah-megahan dengan banyaknya (perkara dunia) sampai mati. Bahkan setiap umur bertambah tua, angan-anganpun bertambah. Maka manusia itu bertambah tua umurnya, namun angan-angannya muda. Sehingga ada orang yang berumur 90 tahun misalnya, engkau mendapatinya memiliki banyak angan-angan dan panjang angan-angan yang tidak ada pada seorang pemuda yang berumur 15 tahun. Inilah makna ayat yang mulia ini, yaitu bahwa kamu telah menjadi lalai terhadap akhirat sampai kamu mati dengan sebab bermegah-megah dengan banyaknya (kesenangan dunia)”. [Tafsir Juz ‘Amma, hlm. 306]

Ayat ini juga mengisyaratkan agar manusia banyak mengingat kematian, karena barapapun harta yang berhasil dia kumpulkan di dunia ini, capat atau lambat, semua harta itu pasti akan dia tinggalkan seiring dengan kematian yang datang.

Firman Allâh Azza wa Jalla :

كَلَّا سَوْفَ تَعْلَمُونَ

Janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu itu),

 Kalla dapat berarti sebenarnya, dan berarti larangan. Yaitu berhentilah dari bermegah-megah ini!

Firman Allâh Subhanahu wa Ta’ala , yang artinya, “kelak kamu akan mengetahui”, yakni kamu akan mengetahui akibat buruk prilakumu, bahwa bermegah-megah ini tidak memberikan manfaat kepada kamu”. [Tafsir Juz ‘Amma, hlm. 307, karya Syaikh Muhamad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah]

Al-Farrâ’ rahimahullah mengatakan, “Yaitu, urusannya tidak sebagaimana yang kamu lakukan, yaitu kamu saling berbangga dan saling bermegah-megah dengan banyaknya jumlah, kamu akan mengetahui akibatnya”. [Tafsir al-Qurthubi, dengan ringkas]

Firman Allâh Azza wa Jalla :

ثُمَّ كَلَّا سَوْفَ تَعْلَمُونَ

Dan janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui.

Tentang pengulangan kalimat ini ada beberapa penjelasan Ulama’ tentang maknanya:

Sebagai bentuk penekanan.Kamu akan mengetahui siksaan di dalam kubur dan kamu akan mengetahui siksaan di akhirat. Sehingga ayat ini memuat berita tentang siksa kubur dan akhirat.Kamu akan mengetahui pada waktu melihat langsung bahwa apa yang Aku beritakan itu haq, dan kamu akan mengetahui pada waktu bangkit dari kubur bahwa apa yang Aku janjikan itu benar.Kamu akan mengetahui, jika kematian telah turun kepada kamu, dan para Malaikat mendatangimu untuk mencabut nyawa. Dan kamu akan mengetahui jika kamu telah memasuki kubur kamu, malakikat Munkar dan Nakir mendatangimu, kengerian pertanyaan kubur menyelimuti kamu, dan jawaban terputus darimu. [Tafsir al-Qurthubi, dengan sedikit ringkas]

Firman Allâh Azza wa Jalla :

كَلَّا لَوْ تَعْلَمُونَ عِلْمَ الْيَقِينِ

Janganlah begitu, jika kamu mengetahui dengan pengetahuan yang yakin,

Al-Imam Al-Qurthubi rahimahullah berkata, “Allâh Azza wa Jalla mengulangi kata ‘kalla’, ini sebagai larangan dan peringatan, seolah-olah Allâh Azza wa Jalla berfirman, “Janganlah kamu lakukan, karena kamu akan menyesal; janganlah kamu lakukan karena kamu melakukan perkara yang menyebabkan siksaan“.   [Tafsir al-Qurthubi, dengan sedikit ringkas]

Syaikh as-Sa’di rahimahullah berkata, “Yaitu, seandainya kamu mengetahui dengan pengetahuan yang sampai ke dalam hatimu tentang apa yang ada di hadapanmu, maka pasti prilaku bermegah-megahan tidak akan bisa melalaikankamu, dan kamu benar-benar akan bergegas melakukan amal-amal shalih. Tetapi ketiadaan ilmu yang hakiki telah menjadikan kamu seperti apa yang kamu lihat”. [Tafsir Taisîr al-Karîmirrahmân]

Syaikh al-‘Utsaimin rahimahullah berkata, “Yakni: sebenarnya jika kamu mengetahui dengan pengetahuan yang yakin, kamu benar-benar mengetahui bahwa kamu dalam kesesatan, tetapi kamu tidak mengetahui dengan pengetahuan yang yakin, karena kamu lalai dan bermain-main di dunia ini. Jika kamu mengetahui dengan pengetahuan yang yakin, sesungguhnya kamu benar-benar menyadari bahwa kamu berada di dalam kesesatan dan kesalahan yang besar”. [Tafsir Juz ‘Amma, hlm. 308]

Sesungguhnya orang yang telah mati benar-benar telah mengetahui hakekat berita-berita Allâh dan RosulNya.

Firman Allâh Azza wa Jalla :

لَتَرَوُنَّ الْجَحِيمَ

Niscaya kamu benar-benar akan melihat neraka Jahiim,

Syaikh as-Sa’di rahimahullah berkata, “Yaitu, hari kiamat benar-benar akan datang kemudian kamu akan melihat neraka Jahim yang telah Allâh siapkan bagi orang-orang kafir”. [Tafsir Taisîr al-Karîmirrahmân]

Mengenai kata “kamu” dalam ayat ini, menurut sebagian Ulama diarahkan untuk orang kafir. Seperti firman Allâh Azza wa Jalla :

وَرَأَى الْمُجْرِمُونَ النَّارَ فَظَنُّوا أَنَّهُمْ مُوَاقِعُوهَا وَلَمْ يَجِدُوا عَنْهَا مَصْرِفًا

Dan orang-orang yang berdosa melihat neraka, maka mereka meyakini, bahwa mereka akan jatuh ke dalamnya dan mereka tidak menemukan tempat berpaling dari padanya. [Al-Kahfi/18: 53]

Sebagian lain menyatakan bahwa kata ‘kamu’ itu untuk umum, semua manusia. Sehingga neraka itu disiapkan untuk orang-orang kafir sebagai tempat tinggal menetap, dan untuk orang-orang beriman sebagai tempat lewat. Allâh Azza wa Jalla berfirman:

وَإِنْ مِنْكُمْ إِلَّا وَارِدُهَا ۚ كَانَ عَلَىٰ رَبِّكَ حَتْمًا مَقْضِيًّا ﴿٧١﴾ ثُمَّ نُنَجِّي الَّذِينَ اتَّقَوْا وَنَذَرُ الظَّالِمِينَ فِيهَا جِثِيًّا

Dan tidak ada seorangpun dari kamu, melainkan akan mendatangi neraka itu. Hal itu bagi Tuhanmu adalah suatu kemestian yang sudah ditetapkan. Kemudian Kami akan menyelamatkan orang-orang yang bertakwa dan membiarkan orang-orang yang zhalim di dalam neraka dalam keadaan berlutut. [Maryam/19: 71-72]

Karena seluruh manusia akan melewati neraka. Adapun orang-orang kafir mereka akan masuk dan tidak keluar, sedangkan orang-orang beriman, mereka akan melewati sirâth (jalan/jembatan di atas jurang neraka Jahannam) dengan kecepatan yang sesuai dengan amalannya ketika di dunia, kemudian di antara mereka sekedar lewat tanpa memasukinya, dan sebagian yang lain memasukinya sementara sampai Allâh Azza wa Jalla ijinkan untuk memasuki surga setelah bersih dari dosa-dosa. Kita memohon perlindungan kepada Allâh dari siksa neraka.

Firman Allâh Azza wa Jalla :

ثُمَّ لَتَرَوُنَّهَا عَيْنَ الْيَقِينِ

Dan sesungguhnya kamu benar-benar akan melihatnya dengan ‘ainul yaqin.

Yaitu (kamu) akan melihat neraka dengan mata kepala sendiri sehingga menimbulkan keyakinan yang kuat. [Lihat Terjemah Depag].

Syaikh al-‘Utsaimin rahimahulllah berkata, “Ayat ini menguatkan (kejadian bahwa manusia akan) melihat neraka. Kapan itu dilihat? Akan dilihat pada hari kiamat. Neraka akan didatangkan diseret dengan 70 ribu kendali, setiap satu kendali diseret oleh 70 ribu Malaikat. Sedangkan Malaikat adalah makhluk yang besar dan kuat, sehingga neraka itu juga sangat besar, semoga Allâh melindungi kita darinya.” [Tafsir Juz ‘Amma, hlm. 309, karya Syaikh al-‘Utsaimin rahimahullah]

Apa yang dikatakan oleh Syaikh al-‘Utsaimin ini disebutkan di dalam hadits shahih sebagai berikut:

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُؤْتَى بِجَهَنَّمَ يَوْمَئِذٍ لَهَا سَبْعُونَ أَلْفَ زِمَامٍ مَعَ كُلِّ زِمَامٍ سَبْعُونَ أَلْفَ مَلَكٍ يَجُرُّونَهَا

Dari Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu anhu, dia berkata, “Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Pada hari itu (hari kiamat) Jahannam akan didatangkan, padanya terdapat  70 ribu kendali, setiap satu kendali ada 70 ribu Malaikat, para Malaikat itu menyeretnya. [HR. Muslim, no. 2842; Tirmidzi, no. 2573]

Setelah kita mengetahui berita-berita yang haq dari Allâh Azza wa Jalla dan Rasul-Nya seperti ini, maka janganlah kita terpedaya dengan kehidupan sementara di dunia ini, kemudian tersibukkan dengannya, dan melalaikan kehidupan hakiki di akhirat. Hanya Allâh tempat memohon pertolongan.

Firman Allâh Subhanahu wa Ta’ala :

ثُمَّ لَتُسْأَلُنَّ يَوْمَئِذٍ عَنِ النَّعِيمِ

Kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan.

Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Yaitu, kemudian pada hari itu kamu akan ditanya tentang syukur terhadap (nikmat-nikmat) yang Allâh telah berikan kepada kamu, yang berupa kesehatan, keamanan, rezeki, dan lainnya”. [Tafsir al-Qur’ânil ‘Azhîm]

Dengan demikian maka kenikmatan yang akan ditanyakan pada hari kiamat itu umum meliputi seluruh kenikmatan, seperti: waktu luang, kelengkapan panca indra, kelezatan makanan dan minuman, makan pagi, siang, dan malam, kenyangnya perut, segarnya minuman, naungan tempat tinggal, keseimbangan badan, kenikmatan tidur, kebahagiaan jiwa, dan lainnya dari nikmat Allâh yang tidak terbatas. [Lihat Tafsir Al-Qurthubi]

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memberitakan kepada kita tentang masalah-masalah yang akan ditanyakan pada hari kiamat. Antara lain yang disebutkan di bawah ini:

عَنْ ابْنِ مَسْعُودٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا تَزُولُ قَدَمُ ابْنِ آدَمَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ عِنْدِ رَبِّهِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ خَمْسٍ عَنْ عُمُرِهِ فِيمَ أَفْنَاهُ وَعَنْ شَبَابِهِ فِيمَ أَبْلَاهُ وَمَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَ أَنْفَقَهُ وَمَاذَا عَمِلَ فِيمَا عَلِمَ

Dari Ibnu Mas’ud dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , beliau bersabda: “Tidaklah telapak kaki hamba akan bergeser dari hadapan Robbnya pada hari kiamat sampai dia ditanya tentang lima perkara: “Tentang umurnya untuk apa dia habiskan; tentang masa mudanya untuk apa dia pergunakan; tentang hartanya, dari mana dia mendapatkannya; dan untuk apa dia belanjakan; dan apa yang telah dia amalkan dari apa yang telah dia ketahui”. [HR. Tirmidzi, no: 2416; Ditakhrij dan dishohihkan oleh Syaikh Al-Albani di dalam Silsilah Ash-Shohihah, no. 946]

Di dalam hadits yang lain Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ أَوَّلَ مَا يُسْأَلُ عَنْهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يَعْنِي الْعَبْدَ مِنْ النَّعِيمِ أَنْ يُقَالَ لَهُ أَلَمْ نُصِحَّ لَكَ جِسْمَكَ وَنُرْوِيَكَ مِنْ الْمَاءِ الْبَارِدِ

Sesungguhnya pertama kali yang akan ditanyakan kepada hamba pada hari kiamat tentang kenikmatan yaitu akan dikatakan kepadanya (Allâh): “Bukankah Kami telah menjadikan badanmu sehat dan bukankah Kami telah menjadikanmu puas dengan air yang sejuk?”  [HR. Tirmidzi, no. 3358, dari Abu Huroiroh; dishohihkan oleh syaikh Al-Albani]

Kalau pertanyaan ini sudah pasti akan terjadi, karena merupakan berita Allâh dan rasul-Nya, maka apakah  kita sudah mempersiapkan jawabannya?

FAEDAH-FAEDAH AYAT

Kecintaan terhadap dunia, kenikmatannya, dan keindahannya, telah melalaikan banyak manusia dari mencari akhirat.Manusia itu memiliki watak bermegah-megah dengan banyaknya kenikmatan dan harta di dunia sampai kematian menjemputnya.Anjuran banyak mengingat kematian, karena barapapun harta yang berhasil dikumpulkan di dunia ini pasti akan dia tinggalkan dengan datangnya kematian.Larangan bermegah-megah urusan dunia.Urgensi ilmu agama. Karena dengan ilmu yang yakin manusia mengetahui bahwa hikmah penciptaan adalah untuk beribadah kepada Allâh semata, sehingga dia tidak lalai dan bermain-main saja di dunia ini.Manusia benar-benar akan melihat neraka pada hari kiamat.Manuisa akan ditanya tentang seluruh kenikmatan dari Allâh pada hari kiamat, tentang syukurnya dan keyakinannya kepada hari kiamat.

Inilah sedikit penjelasan dari surat yang agung ini, semoga bermanfaat. Al-hamdulillahi Rabbil ‘alamiin.



Allahu a'lam.

Jangan mudah berprasangka buruk

No Comments
إِيَّا كُمْ وَالظَّنَّ فَإِنَّ الظَّنَّ أَكْذَبُ الْحَدِيْثِ وَلاَ تَحَسَّسُوا وَلاَ تَجَسَّسُوا وَلاَ تَحَاسَدُوا وَلاَتَدَابَرُوا وَلاَتَبَاغَضُوا وَكُوْنُواعِبَادَاللَّهِ إحْوَانًا

“Berhati-hatilah kalian dari tindakan berprasangka buruk, karena prasangka buruk adalah sedusta-dusta ucapan. Janganlah kalian saling mencari berita kejelekan orang lain, saling memata-matai, saling mendengki, saling membelakangi, dan saling membenci. Jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara"
(H.R Bukhari-Muslim)
3 golongan manusia yang mendapat keteduhan

3 golongan manusia yang mendapat keteduhan

No Comments
Bismillah
Nabi shollallohu 'alaihi wasallam telah bersabda, bahwa ada tiga golongan manusia yang akan diberi keteduhan oleh Allah di bawah teduhnya Arsy Allah di hari (kiamat) saat tidak ada tempat berteduh kecuali teduhnya Arsy yaitu :
1. Orang yang berwudhu di saat udara sangat dingin.
2. Orang yang berjalan ke masjid di waktu gelap.
3. Orang yang suka memberi makan orang yang lapar.
Keterangan :
Kerjakanlah sholat dan sempurnakan wudhu walaupun banyak halangan dan rintangan, serta sholatlah dengan berjama'ah sekalipun dalam keadaan gelap, dan tolonglah orang yang lemah.
Amalan yang tidak terputus

Amalan yang tidak terputus

No Comments
✍ berkata Imam Ibnul Qayyim rahimahullah:الجود بالعلم وبذله وهو من أعلى مراتب الجود، والجود به أفضل من الجود بالمال لأن العلم أشرف من المال»."
👉🏼Dermawan dengan ilmu dan mencurahkannya termasuk tingkatan kedermawanan yang paling tinggi,
👉🏼 Dermawan dengannya lebih utama dari pada dermawan dengan harta sebab ilmu lebih mulia dari pada harta."
📔madarijus salikin (2/281)
✍️️ berkata Ibnul Jauzi rahimahullah:
مَن أَحَبَّ أن ﻻ ينقطع عمله بعد موته فلينشر العِلم »."
👉🏼Barang siapa yang suka )pahala( amalnya tidak terputus setelah kematiannya maka hendaklah ia menyebarkan ilmu."
📔at tadzkirah
Menjenguk orang sakit

Menjenguk orang sakit

No Comments
Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda
:مَنْ عَادَ مَرِيْضاً أَوْ زَارَ أَخاً لَهُ فِي اللهِ أَيْ فِيْ سَبِيْلِ اللهِ نَادَاهُ مُنَادٍ بِأَنْ طِبْتَ وَطَابَ مَمْشَاكَ وَتَبَوَّأْتَ مِنَ الْجَنَّةِ مَنْزِلاً.
👉🏻Barang siapa menjenguk orang yang sakit atau mengunjungi saudaranya karena Allah atau di jalan Allah
👣Maka akan ada penyeru yang mengatakan kepadanyaEngkau telah berbuat baik, baik pula langkah kakimu dan kelak engkau akan menempati sebuah rumah di surga.”
📚HR. At-Tirmidzi & Ibnu Majah
Ilmu

Ilmu

No Comments
🌾 Al Imam 'Utsman bin Sa'id Ad Darimi rahimahullah berkata :

"إن العلم ليس بكثرة الرواية، ولكنه نور يقذفه الله في القلب، وشرطه:الأتباع والفرار من الهوى والابتداع"

✍🏻"Sesungguhnya ilmu bukanlah banyaknya periwayatan.
Akan tetapi itu adalah cahaya yang Allah masukkan kedalam hati.

👉🏼Dan syaratnya adalah ittiba'(mengikuti Sunnah Nabi) dan lari dari hawa nafsu serta kebid'ahan." 

📚Haqqun Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam, lis Syaikh Abdullah Al Bukhary hal.32
SEBAIK-BAIK MANUSIA

SEBAIK-BAIK MANUSIA

No Comments
       🕌🤓📚🔍
Tahukah Anda siapakah sebaik-baik manusia?

RASULULLAH SAW  bersabda:

( خيركم من تعلم القرآن وعلمه )
صحيح البخاري 5027

"Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari Al Qur'an dan mengajarkannya."
  (HR. Bukhari 5027 )

( خياركم أحاسنكم أخلاقا )
 صحيح البخاري6035

"Sebaik-baik kalian adalah orang yang paling baik akhlaknya "
   (HR. Bukhari 6035)

( خيركم أحسنكم قضاء )
أي عند رد القرض .
 صحيح البخاري رقم 2305

"Sebaik-baik kalian adalah orang yang paling baik dalam membayar (mengembalikan hutang)
   (HR. Bukhari 2305)

 ( خيركم من يُرجى خيره ويُؤمٓن شره )
 صحيح الترمذي / 2263

"Sebaik-baik kalian adalah orang yang paling bisa diharapkan kebaikannya dan aman dari keburukannya "
  (HR. Tirmidzi 2263)

 ( خيركم خيركم لأهله )
صحيح ابن حبان / 4177

"Sebaik-baik kalian adalah orang yang paling baik terhadap istrinya" 
   (HR. Ibnu Hibban : 4177)

 ( خيركم من أطعم الطعام وردَّ السلام )
 صحيح الجامع / 3318

"Sebaik-baik kalian adalah orang yang memberi makan (kepada orang lain) dan menjawab salam"
  (Shahih Al Jami' 3318)

( خياركم ألينُكم مناكب في الصلاة )
 الترغيب والترهيب  234/1
أي: يفسح لمن يدخل الصف في الصلاة .

"Sebaik-baik kalian adalah orang yang paling baik dalam meluaskan tempat ( bagi orang masuk dalam shof) dalam sholat."
   (Targhib wa Tarhib 1/234)

 ( خير الناس من طال عمره وحسن عمله )
 صحيح الجامع 3297

"Sebaik-baik manusia adalah orang yang panjang umurnya dan baik amal perbuatannya."
    (Shahih al Jami' 3297)

 ( خير الناس أنفعهم للناس )
صحيح الجامع 3289

"Sebaik-baik manusia adalah orang yang paling bermanfaat bagi orang lain."
 (Shahih al Jami' 3289)

 ( خير الأصحاب عند الله خيركم لصاحبه، وخير الجيران عند الله خيركم لجاره )
صحيح الأدب المفرد/84
 
"Sebaik-baik sahabat di sisi Allah adalah orang yang paling baik terhadap sahabatnya. Sebaik-baik tetangga di sisi Allah adalah orang yang paling baik terhadap tetangganya"
   (Shahih Adabul Mufrod : 84)

 ( خير النَّاس ذو القلب المَخْمُوم واللِّسان الصَّادق ) قالوا : صدوق اللسان نعرفه ، فما مخموم القلب ؟ قال :
(  هو النقي ، التقي ، لا إثم عليه ، ولا بغي ، ولا غل ، ولا حسد ) .
صحيح الجامع / 3291

"Sebaik-baik manusia adalah orang yang memiliki hati yang makhmum dan lisan yang jujur."

 Para sahabat bertanya : Lisan yang jujur kami paham, maka apa yang dimaksud dengan hati yang makhmum?

Beliau bersabda : "orang yang memiliki hati bersih dan bertaqwa, tidak ada dosa, tidak berbuat zhalim, serta tidak ada kebencian dan hasad"
   (Shahih al Jami' 3201)

جعلني الله واياكم من خير الناس

Semoga Allah ta'ala menjadikan kita semua sebagai orang yang terbaik,  amin.... 🕌

  اللهم صل على محمد وآل محمد   🙏🏻

Our Facebook Page