ANTARA IMAN & SEPAKBOLA

No Comments
Sebagian penyuka sepakbola, sebenarnya tidak suka bermain sepakbola. Tapi suka menontonnya saja. Sebagian yang suka menontonnya saja, ada yang karena gantengnya, atau skillnya enak dilihat, atau dari sisi agamanya, atau dari sisi rasnya.
Kalau karena gantengnya, bisa jadi zina mata.
Kalau karena skillnya, jika itu pemain kafir, maka menggerogoti prinsip wala dan bara. Jika itu pemain muslim, pikirkan pemain kafir banyak yang lebih bagus skillnya.
Kalau karena agamanya, Anda tidak mau menikahinya, kan? Lagipula, ini alasan lucu dengan melihat: kenapa tidak dukung Persib misalnya malah mengata-ngatai pemainnya padahal muslim rata-rata. Kenapa tidak benci semua pemain kafir? Kenapa benci pemain Malaysia, misalnya? Omong kosong yang ini.
Kalau dilihat dari sisi rasnya, akan timbul fanatisme jahiliyah.Tidak ada pemain bola profesional yang ikhlash mengucurkan keringat tanpa dibayar. Semua butuh sponsor.
Sepakbola yang dipertontonkan semuanya tidak menambah keimanan. Sedihnya kalah tim negeri kita melebihi sedihnya terhadap rendahnya aqidah anak-anak negeri atau bobroknya moral atas bawah negeri.
Di antara salaf dulu ada yang seharian baca al-Qur'an karena saking sedihnya tidak ikutan shalat berjama'ah Shubuh. Apa ada sekarang dari kita berazam besok menjadi lebih shalih saking nestapanya akan kekalahan tim tanah air atau tim Favorite? Tidak ada. Jikapun ada, tetap aneh. Karena gegara bola, tidak ada yang jadi tambah shalih.
Mungkin khalayak awam yang tidak rajin ngaji ke majelis ilmu, bisa dimaklumi mengapa. Tapi jika awam maupun thalib al-ilm yang rajin hadir di majelis menzahirkan spirit sepakbolanya apalagi untuk Barat, maka perlu dididik lagi.
Kalau memang suka, jangan diterangkan. Supaya kita tidak terbiasa malu melihatnya. Kalau kalau terbiasa malu melihatnya, lama-lama jadi biasa dan makin tidak tahu malu.
Ini belum masalah fiqhiyyah juga manhajiyyah berkaitan dengan perlombaan sepakbola baik level tarkam sampai nasional bahkan internasional, yang banyak tidak lepas dari kemunkaran. Sponsorship ribawi, rokok, perjudian baik dari sektor penonton maupun dari sisi hadiah, buka aurat, fanatisme, dan seterusnya.
Urusan kemunkaran dan keburukan yang tersembunyi dalam kesendirian, itu urusan individu dengan Rabb-nya. Tapi perlu dinasehati jika malah dizahirkan, dijahrkan apalagi dibanggakan.
Semoga Allah beri hidayah dan taufiq bagi kita semua. Kaum Muslimin insya Allah akan membaik.

Dear readers, after reading the Content please ask for advice and to provide constructive feedback Please Write Relevant Comment with Polite Language.Your comments inspired me to continue blogging. Your opinion much more valuable to me. Thank you.